Apa Kabar Yogyakarta — Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius, atau lebih dikenal dengan sebutan Gereja Kidul Loji yang berlokasi di Jalan Panembahan Senopati, Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, menyimpan sebuah kisah misterius yang hingga kini masih menjadi perbincangan umat Katolik. Kisah itu adalah peristiwa “hosti berdarah” yang terjadi pada 13 tahun silam, tepatnya Minggu, 15 April 2012.

Kronologi Peristiwa
Melansir catatan Rm. B. Saryanto, peristiwa terjadi saat misa atau ekaristi yang berlangsung pukul 18.00 WIB dan dipimpin oleh Rm. V. Suparman. Saat perayaan ekaristi berlangsung, hosti yang digunakan dalam perjamuan kudus dikabarkan mengeluarkan bercak merah yang menyerupai darah. Kejadian tersebut sontak mengundang keheningan sekaligus tanda tanya di kalangan umat yang hadir.
Peristiwa ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut, bahkan terdokumentasi dalam beberapa catatan rohaniwan, sehingga menimbulkan beragam interpretasi dan rasa penasaran yang masih bertahan hingga kini.
Baca Juga : Jemaat Katolik di Jogja Berduka Kehilangan Sosok Paus Fransiskus
Tanggapan Gereja dan Umat
Pihak gereja saat itu mengambil sikap hati-hati dalam menyikapi peristiwa ini. Gereja Katolik umumnya menekankan perlunya penelitian mendalam setiap kali ada fenomena rohani yang dianggap luar biasa. Sikap ini bertujuan agar umat tetap beriman secara sehat dan tidak terjebak pada euforia atau pemahaman yang keliru.
Bagi sebagian umat, peristiwa hosti berdarah dianggap sebagai tanda kehadiran ilahi yang nyata dalam perayaan ekaristi. Namun, ada pula yang menilai kejadian tersebut sebagai misteri iman yang tidak harus dicari penjelasan ilmiahnya, melainkan cukup diterima sebagai bagian dari rahasia Tuhan.
Misteri yang Tetap Hidup
Hingga kini, tidak ada penjelasan resmi yang dapat menjawab secara pasti bagaimana hosti bisa terlihat seperti mengeluarkan darah. Misteri itu tetap hidup dalam ingatan umat Gereja Kidul Loji maupun masyarakat Katolik di Yogyakarta.
Peristiwa “hosti berdarah” ini pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah iman sekaligus pengingat bahwa dalam tradisi Katolik, ekaristi diyakini sebagai sakramen yang mengandung kehadiran Kristus sendiri. Entah bagaimana penjelasan rasionalnya, kisah ini tetap menjadi salah satu misteri rohani yang menambah kekayaan spiritual Gereja Katolik di Yogyakarta.












