Apa Kabar Yogyakarta — Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani, mengungkapkan bahwa para pendatang yang menetap di Kota Yogyakarta umumnya mengalami tiga fase adaptasi budaya (culture shock) sebelum akhirnya mampu beradaptasi dan merasa nyaman dengan lingkungan baru mereka.

Hal tersebut disampaikan Ratna dalam sebuah talkshow di Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta, pada Jumat (7/11/2025). Ia menjelaskan, proses adaptasi budaya merupakan perjalanan psikologis yang wajar dialami oleh siapa pun yang berpindah ke lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.
“Ada tiga fase yang harus dilalui, yaitu fase honeymoon, fase krisis, dan fase recovery. Setiap pendatang pasti melewati fase-fase ini, meski dengan durasi yang berbeda-beda,” ujar Ratna.
Pada fase honeymoon, lanjutnya, pendatang biasanya merasa antusias dan tertarik dengan hal-hal baru, mulai dari budaya lokal, kuliner, hingga keramahan masyarakat Yogyakarta. Namun, semangat itu sering kali menurun saat memasuki fase krisis. Di mana individu mulai mengalami kebingungan, kesulitan beradaptasi, hingga rasa rindu pada lingkungan asal.
Baca Juga : Kemdiktisaintek buka peluang kerja sama pendidikan dengan Turkmenistan
“Fase krisis ini penting diwaspadai karena dapat memengaruhi kesehatan mental. Rasa tidak nyaman atau perbedaan nilai dan kebiasaan bisa menimbulkan stres jika tidak dikelola dengan baik,” tambahnya.
Sementara itu, fase recovery ditandai dengan mulai tumbuhnya kemampuan untuk menyesuaikan diri, memahami norma sosial. Serta mengembangkan strategi komunikasi yang lebih efektif dengan masyarakat setempat.
Ratna menegaskan, dukungan sosial dan lingkungan yang inklusif sangat membantu mempercepat proses adaptasi pendatang di Yogyakarta.
“Komunitas kampus, teman kos, dan masyarakat lokal memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang ramah bagi pendatang,” tuturnya.
Ia berharap, masyarakat Yogyakarta dapat terus mempertahankan nilai keterbukaan dan keramahan yang menjadi ciri khas kota pelajar tersebut. Sehingga semua pendatang bisa beradaptasi dengan baik dan merasa menjadi bagian dari kehidupan di kota budaya itu.












